Kaidah dan Norma

Kaidah atau norma merupakan bagian dari kehidupan kita. Norma-norma yang biasa kita temui, antara lain hati nurani, kebebasan dan tanggung jawab, nilai dan norma, serta hak dan kewajiban. Tapi pada makalah ini, kita akan lebih menitikberatkan pada norma etika mengenai kebebasan dan tanggung jawab. Kenapa saya memilih topik tersebut? Karena topik ini merupakan topik yang memiliki banyak pandangan yang berbeda dari tiap-tiap individu. Dan banyak pula yang menyalahgunakan kebebasan dan tanggungjawab itu sendiri dan hal tersebut pastinya akan menimbulkan berbagai masalah.
Kebebasan dan tanggung jawab sangat erat kaitannya. Karena kedua hal tersebut saling berhubungan satu sama lain.
Kebebasan merupakan sesuatu yang sudah kita dapatkan sejak lahir. Tapi, apa arti sebenarnya dari kata kebebasan itu? Kebebasan berasal dari kata “bebas” yang artinya tidak ada pembatasan atau tidak dibatasi oleh siapapun. Kebebasan itu mempunya banyak aspek dan banyak karakteristik. Kita sering menggunakan kata “bebas” tersebut setiap hari dengan beberapa pemikiran yang berbeda.
Beberapa arti kebebasan:
a. Kebebasan Sosial-politik, yaitu suatu arti kebebasan yang berhubungan dengan bangsa atau rakyat. Kebebasan ini tidak terjadi secara sendirinya. Dalam masalah ini, arti kebebasan yang sebenarnya yaitu lepas dari penjajah atau kolonial. Kebebasan dalam bentuk ini biasa kita sebut “kem erdekaan”. Dalam prosesnya membutuhkan waktu yang panjang, bahkan pengorbanan untuk mendapatkannya. Rasa tertekan dan tertindas oleh bangsa asing membuat kita menginginkan hal itu. Pada zaman dahulu memang penjajahan atau kolonialisme merupakan hal yang wajar, dan mereka menganggap hal itu adalah hal yang biasa. Tapi pada era modern ini, kolonialisme sangat ditentang oleh semua kalangan. Tidak wajar bila suatu negara menjajah negara lain. Setiap negara mempunyai hak sendiri untuk menentukan jalannya.
b. Kebebasan individual, yaitu kebebasan yang ada di setiap individu. Dalam kosep ini, sering kita lihat arti kebebasan yang berbeda-beda dari setiap individunya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena kita manusia mempunya akal pikiran yang berbeda satu sama lain. Kalau tidak bisa melakukan hal mereka inginkan, berarti mereka tidak bebas. Hal ini yang sebenarnya harus diluruskan. Kebebasan bukan berarti semau kita tanpa memperdulikan lingkungan sosialnya. Pada dasarnya kita adalah manusia, dan manusia itu sendiri tidak bisa di sebut manusia apa bila tidak ada manusia yang lain. Karena seorang yang dikatakan manusia, apabila ada orang lain yang mengatakan dirinya itu adalah manusia. Oleh karena itu kita sebagai makhluk sosial akan selalu membutuhkan orang lain. Kesewenang-wenanganlah yang sebenarnya kita telah lakukan. Disini kata “bebas” telah disalahgunakan. Tingkah laku manusia tidak ditentukan oleh instingnya masing-masing, melainkan perlu suatu pemikiran yang matang mengenai kebebasan itu sendiri. Karena kebebasan yang sejati adalah kebebasan yang tetap mematuhi norma-norma yang ada.
Kebebasan mempunyai beberapa batas-batasan. Batasan ini ada agar kita bisa mengendalikan pemikiran kita mengenai kebebasan itu.
a. Faktor-faktor dari dalam
Kebebasan pertama-tama dibatasi oleh faktor-faktor dari dalam, baik fisik maupun psikis. Contohnya wanita yang mempunyai batasan-batasan tersendiri dalam melakukan sesuatu. Batasan ini umumnya tidak bersifat resmi. Melainkan paham yang diturunkan oleh orangtuanya atau mereka mengetauhi dengan sendirinya lewat lingkungan bahwa mereka adalah seorang perempuan dan tidak boleh melakukan sesuatu yang berlebihan.
b. Lingkungan
Kebabasan yang dibatasai oleh lingkungan, baik ilmiah maupun sosial. Lingkungan ini sangat menentukan pandangan kita mengenai kebebasan. Karena di setiap lingkungan yang berbeda maka mereka mempunya pandangan yang berbeda pula. Contohnya, apabila kita tinggal di lingkungan kita dan akhirnya kita pindah ke lingkungan yang lain. Apakah kita akan sebebas sewaktu kita di lingkungan kita sendiri? Jawabannya adalah tidak. Karena mereka menganggap kita adalah orang asing dan budaya mereka dengan kita sangat berbeda.
Tanggung jawab menurut bahasa Indonesia ada kaitannya dengan “jawab”. Bertanggung jawab berarti: dapat menjawab, bila ditanya tentang perbuatan-perbuatan yang dilakukan. Orang yang bertanggung jawab dapat menjelaskan semua tindakan-tindakannya dengan logis dan dapat diterima oleh orang lain. Dalam masyarakat akais dulu tanggung jawab sering disamakan dengan penyebab sesuatu.
Tanggung jawab dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tanggung jawab retrospektif dan tanggung jawab prospektif. Tanggung jawab retrospektif adalah tanggung jawab atas perbuatan yang telah berlangsung dan segala konsekuensinya. Contohnya kita telah menghilangkan barang milik teman kita, otomatis kita akan menggantinya dengan harga yang sama atau sesuai dengan kesepakatan bersama. Yang kedua adalah tanggung jawab prospektif, yaitu tanggung jawab atas perbuatan yang akan datang. Contohnya teman menitipkan barang ke kita, dan kita bertanggung jawab untuk menjaganya agar barang itu tidak hilang. Sebenarnya, untuk menentukan bertanggungjawabkan seseorang bukanlah suatu hal yang mudah. Kita harus melihat beberapa faktor orang tersebut. Contohnya seorang anak yang kecil yang melakukan kesalahan, dan dia belum bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena kondisi fisik dan psikis anak tersebut memang belum memenuhi. Ada hukum-hukum yang sudah mulai jelas mengenai tanggung jawab. Walau kadang kala hukum tersebut sering disalahgunakan. Tapi adakalanya apabila seorang anak yang belum berhak bertanggung jawab tetapi melakukan sesuatu yang perlu pertanggungjawabannya yang berarti anak itu harus bertanggung jawab. Tapi sulit sekali untuk memastikan tingkat-tingkat tanggung jawab itu. Jadi, bertanggung jawab haruslah sesuai dengan apa yang dilakukan seseorang, yang berkaitan dengan tugasnya dan kewajiban terhadap apa yang dilakukannya dan terhadap harapan lainnya, dan itulah nilai-nilai kemanusiaan yang sebenarnya.
Kesimpulan dari semua diatas adalah kebebasan tidak lepas dari tanggung jawab. Semua hal yang akan kita lakukan, akan memperoleh konsekuensi dari lingkungan sosial itu sendiri karena kita adalah salah satu dari makhluk sosial. Dan kita harus menghargai orang-orang yang ada di lingkungan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: